Kamis, 06 September 2012

Keindahan dibalik kekumuhan rumah dibawah jembatan

Hari ini, saya telah melakukan sebuah perjalanan yang tak pernah saya sangka. Baru saja, saya menemui seseorang ibu pemilik sebuah warung di daerah cilincing, Jakarta Utara, saya tak sempat menanyakan siapa namanya, tapi ada hal yang membekas disini, di hati. Nanti kawan saya ceritakan.
Sebelumnya, saya sedang dalam pencarian pelaku-pelaku penyalahgunaan narkoba, mulai pukul lima sore saya telah duduk di depan warung nasi, tapi bukan warung yang saya sebutkan diatas. Menit demi menit terus berlalu, pelaku yang ditunggu tidak kunjung datang, hingga sampai adzan magrib pun berkumandang, saya putuskan untuk terlebih dahulu melaksanakan solat magrib di sebuah musola kecil dekat warung tersebut.
Setelah pamitan kepada senior saya untuk pergi ke musola, saya pun pergi dan melaksanakan solat disana. Saya melihat sedikit sekali jama’ah yang solat di musola itu, padahal, kanan kirinya banyak sekali penduduknya, namun yang bisa solat berjama’ah di musola kecil itu hanya saya, empat orang bapak-bapak serta satu orang ibu. Tak ada perasaan aneh waktu itu, biasa saja.
Setelah selesai solat dan berdo’a sedikit (hehehe, maklum agak terburu-buru juga, soalnya senior saya udah nunggu, takut pelakunya kabur), saya pun langsung ke warung nasi tadi. Tiba-tiba saya kebelet pipis, langsung saja saya menuju WC Umum deket situ, belum selesai keluar semua air pipisnya, tiba-tiba senior saya teriak memanggil nama saya, buru-buru lah saya selesaikan pipis saya, dan langsung menuju asal suara.
“Ris, ini nih pelakunya udah jalan, bawa bb (barang bukti ganja), cepet cari motornya matic warna merah, nomornya B XXXX URU, coba lu cari tuh.” sambil celingukan mencari motor yang disebutkan senior saya juga memerintahkan saya untuk mencarinya.
Lalu, dia (senior saya) melihat ada motor yang seperti ciri-ciri tadi, namun posisinya sedang menyebrang ke kali sebrang tempat kami berada. Kami pun juga ikut menyebrang dengan menggunakan perahu yang sama, jadi kami harus menunggu perahu itu balik lagi ke sebrang tempat kami menunggu.
Akhirnya kami pun sampai kesebrang kali, lalu saya langsung menarik gas motor sekencang-kencangnya mencari motor tersebut, ya, kami dapat motornya dan pelaku yang diduga membawa narkotika, kami tak langsung melakukan penggeledahan, yang kami lakukan adalah observasi lingkung terlebih dahulu, melihat disekeliling pelaku tersebut adalah warga yang kami duga adalah juga sekomplotan dengan pelaku ini, maka kami urungkan niat kami untuk melakukan penggeledahan. Bayangkan, kami hanya berdua saja, tapi kami tetap menunggu kalau-kalau si pelaku itu kembali menyalahkan motornya dan pergi dari kerumuanan itu.
Yap, seperti dugaan saya, pelaku itu pun kembali pergi membawa motornya, kami segera melakukan pengejaran, tapi, sekali lagi, kami tidak berhasil menangkap si pelaku, dia mengebut sekencang-kencangnya, sedangkan kami yang berada dibelakangnya tidak bisa karena terhalang oleh banyaknya kendaraan yang sedang berhenti tepat ketika kami ingin megebut sekencang-kencangnya juga.
Huft, walaupun begitu, kami tidak patah arang kawan, kami pun kembali ke tempat kami standby, namun bukan warung nasi yang sebelumnya, tapi di warung yang lain, sambil menunggu dari informan kami yang tetap standby juga kalau-kalau ada pelakunya lagi. Di warung inilah cerita itu dimulai.
Kami pun kembali duduk, menanti apabila sang pelaku yang tadi atau sang pelaku lain lagi datang. Kami menikmati kacang kulit yang dibungkusnya ada burung Pancasilanya, minum air mineral yang kalau baca nama merek kayak orang lagi nanya harganya berapa dalam bahasa jawa.
Aku pun sedikit sok kenal sama si Ibu, nanya-nanya bagaimana keluarganya lah, tempat tinggalnya lah, dan lain-lain.
“Bu, disini bayar gak bu tanahnya?”
“Ya, kagaklah mas, ini kan milik negara, wong di bawah jembatan kok!”
“Lah, anak Ibu pada kemana masa orang tuanya ditinggal disini bu?”
“Anak saya ada lima, semua sudah pada nikah, ya, jadi tinggal berdua lagi deh.”
“Hmm, anaknya masih sering kesini bu?”
“Kalau yang laki-laki dua orang, pasti kesini setiap hari. Kalau yang perempuan tiga orang, jarang banget kesini.”
“Disini lumayan banyak yang beli ya Bu, beda sama warung yang depan itu Bu.”
“Mas, rezeki itu udah ada yang ngatur, saya mah gak ngoyo-ngoyo banget nyari uang, wong saya sudah tua, mau apalagi sih yang di cari? Tinggal matinya doank.”
“Umur ibu berapa?”
“47 tahun, mas.”
“Wah, sama dong sama Ibu saya, umurnya segitu juga. Ibu punya tanah yang resmi gak bu?”
“Alhamdulillah mas, walaupun begini-begini, saya sudah punya rumah gubuk di Bulak Turi, disini aja saya punya kontrakan dua, walaupun baru satu yang bisa di kontrakin. Yang kontrakan satunya lagi masih nunggu duit untuk perbaikan lagi.”
“Bikin kontrakan di tanah gelap begini bu, kan gak ada suratnya?”
“Iya mas, makanya saya mah rela aja, ikhlas kalau sewaktu-waktu di bongkar, memang bukan punya saya kok.”
“Kontrakannya apa yang diperbaiki Bu, emangnya rusak kenapa?”
“Yah mas, disini pun banyak orang yang dengki, kadang kontrakan saya di jaiilin mas, di bocorin lah gentengnya, tapi saya mah gak mau mas dendam-dendam, saya yakin, suatu saat mereka yang suka ngejailin saya pasti dibales sama Allah, mas.”
“Bener tuh Bu.”
“Iya mas, jangan pernah jadi orang yang pendendam mas, hidupnya pasti bakalan sempit. Banyak kok yang telah Ibu saksikan, orang-orang yang suka menjahili orang lain, di akhir hidupnya bakalan aneh-aneh cara matinya.”
“Iya, Bu.” Saya pun termenung mendengar perkataan si Ibu, kadang kita yang sudah memiliki banyak hal-hal yang lebih memiliki materi, kadang malah takut kalau-kalau harta kita itu rusak atau bahkan hilang, memang benar, adalah hak kita untuk mempertahankan hak yang kita punya, namun terkadang tatkala sesuatu benda yang ada di diri kita itu di rusak oleh tetangga kita, kita menjadi lebih liar, kadang penyelesaian permasalahan rusaknya barang kita oleh tetangga kita atau orang lain menjadi panjang. Tahukah kawan, mengapa kita sangat marah tatkala kita melihat sesuatu yang ada pada diri kita ini sedikit di rusak oleh orang lain, bagi saya ini karena kita terlalu merasa memiliki apa yang telah Allah titipkan pada kita. Apapun itu, pasti yang terdapat pada diri kita, semuanya adalah titipan, suatu saat pasti akan diambil lagi oleh pemiliknya, terserah Allah, kapan pun mau Dia ambil titipannya, kita harus ikhlas, karena memang itu bukan miliki kita.
Malam tadi, banyak sekali hal yang saya dapatkan oleh sang Ibu yang sudah terlihat sendu tatapan matanya. Tak terasa, jam pun hampir menunjukkan pukul sembilan malam, “tangkapan” yang kami buru tidak muncul-muncul. Memang belum agak malam sih, tapi mengingat saya besok ada tugas pagi-pagi, maka harus saya pending perburuan ini. Akhirnya, kami pun pamit pulang kepada Ibu pemilik warung.
Ada satu yang berkesan pada malam ini, diantara gelapnya dan kumuhnya rumah-rumah di kolong jembatan, masih ada sang Ibu yang siap memberikan cahayanya untuk menerangi kegelapan manusia kolong jembatan.

Senin, 03 September 2012

Maafkan aku melupakan-Mu

Sahabatku,  seringkali hati ini terasa hilang entah pergi kemana. Tatkala kita sudah pada puncak kenikmatan, puncak kejayaan, namun tiba-tiba kita berdiri dengan angkuh dan mengatakan “Gua kayak karena hasil jerih payah Gua”, “Gua tenar karena kegantengan Gua” atau yang lain-lain, tapi di saat itu dia lupa, bahwa yang memberikan dia banyak sekali kekuatan, kekayaan, martabat yang tinggi di dunia hanyalah Allah Zat Yang Maha Kaya, Maha Agung, Maha Kuat.
Sahabatku, bukan hanya engkau yang pernah melupakan Allah, saya pun pernah melakukan itu, bahkan seringkali seperti itu, tapi yang perlu terus kita ingat, bahwa Allah Sang Maha Penyayang akan selalu mengingat kita. Dia senantiasa menunggu, senantiasa mengharapkan engkau untuk mau mengingat-Nya, mendekati-Nya, dan meminta kepada-Nya akan apa pun yang kita ingin.
Tahukah engkau, Sahabat, bahwa ketika kita melupakan Allah, pada hakikatnya kita melupakan diri kita sendiri. Kita lupa kemana kita menuju. Kita lupa apa sebenarnya yang menjadi tujuan, yang menjadi tugas serta tanggung jawab kita selama nyawa masih bersemayam di dalam badan, yang akhirnya hanya kehancuran yang kita dapatkan. Hati kita hancur lebur, entah arah mana yang dituju, semakin menghitam, menyulitkan kita kembali lagi pada kefitrahan hati.
Mumpung belum terlambat, mari kita kembali merenungi, bahwa tujuan Allah menjadikan manusia di muka bumi adalah menjadi seorang pemimpin yang mampu memakmurkan dunia bukan merusak. Kita juga harus merenungi bahwa tugas yang harus kita emban adalah mentauhidkan Allah, meminta pertolongan hanya kepada Allah, beribadah hanya ditujukan kepada-Nya.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada Agama yang lurus, Al-Islam.

Sabtu, 01 September 2012

Sahabatku dari Cilegon

Tahun 2007, saat itu Aku baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas di Jakarta. Nilai UAN-ku tak tinggi kawan. Rata-rata 7,5. Cukup memuaskan. Walaupun waktu ingin meraihnya, ketika ujian akhir kemarin, Aku dan teman-teman melewatinya penuh tangis. Iya, air mata yang tak terbendung, ada hal yang kami takuti waktu itu, kami takut ada diantara kami yang tidak dapat melalui ujian ini dengan baik.

Hari penentuan lulus atau tidaknya telah tiba, kami semua berbondong-bondong memasuki pagar setinggi 2 meter terbuat dari besi. Menanti surat kecil dari masing-masing wali kelas kami. Akhirnya kami menerima sepucuk surat, tipis, namun tersirat makna yang dalam.
"Gimana Ris, lo lulus gak? Alhamdulillah gua lulus nih." Tanya seorang teman saya Roni, sambil menunjukkan secarik surat miliknya.
"Gua sih pedenya lulus bro. Bentar gua buka."
Yap, LULUS. Bagaimana hati tak berbunga kawan, berbunga melebihi saat bertemu dengan seorang yang dicinta, lebih, lebih dari itu. Kamu tahu kawan, masa depan saya juga ditentukan mulai hari ini. Namun yang dibenakku kali ini sungguh drastis jatuh. Impian saya menjadi seorang guru matematika (walaupun saya tidak begitu pintar dalam bidang ini) harus dipending dulu. Berubah haluan, ya berubah haluan. Karena Aku dilahirkan ditengah keluarga sederhana yang baru bisa menyekolahkan Aku sampai tingkat SMA saja sehingga harapan agak kandas. Tapi biarlah, tak mengapa aku harus memendam keinginan dan cita-cita itu untuk saat ini.
“Kalau gak bisa bayar kuliah kenapa gak nyari kuliah yang gratis aja?” pikirku memotivasi hati yang hampir runtuh.
Aku gak begitu ngerti Universitas apa saja yang menerima Mahasiswa secara gratis. Yang ku tahu hanya STAN kawan. Ya sudah, Aku ikut saja tesnya. Sebelum ikut tes, seperti khalayak ramai apabila ingin ikut tes pasti ikut bimbel atau membeli contoh-contoh yang biasa keluar dalam soal-soal tes ujian masuk STAN. Selain itu ada seorang guru komputerku yang menyarankan untuk mengikuti sebuah Perusahaan yang bergerak di pembuatan generator di Cilegon yang sedang membuka pendaftaran mahasiswa baru yang akan dididik menjadi seorang mekanik listrik selama dua tahun gratis.
Karena yang baru buka pendaftaran adalah perusahaan tersebut sebelum STAN membuka pendaftaran, maka Aku coba mendaftar kepada perusahaan tersebut lebih dahulu. Lalu ku coba layangkan lamaran ke perusahaan tersebut.  Alhamdulillah, tiga hari berikutnya aku mencari di Internet (karena waktu itu pihak perusahaan memberitahukan pengumuman diterima tau tidaknya lamaran melalui internet) informasi tentang penerimaan mahasiswa di website perusahaan tersebut dan aku masuk diantara 200 orang yang diterima untuk mengikuti tes.
Hari Minggu siang, kira-kira waktu itu bulan Agustus 2007, saya berangkat menuju ke Cilegon untuk mengikuti tes tertulis disana. Tapi kawan, bukan hari Minggu ini tesnya, tapi keesokkan harinya. Sesampainya di Cilegon, Aku diturunkan di pertigaan jalan karena memang bis yang ku gunakan akan langsung menuju ke merak. Banyak para tukang ojek yang menawarkan jasanya dan memang sudah naluri semua tukang ojek seperti itu, mendekati penumpang yang baru turun dari sebuah bis dan menawarkan jasa antar kemana pun yang diinginkan para calon penumpang ojek.
“Mau kemana mas?” tanya seorang tukang ojek penuh harap dengan motornya yang sudah menyala semenjak Aku turun.
“Ke Perusahaan KOTAMA (Maaf Aku lupa nama Perusahaannya) Pak, berapa?”
 “25 ribu aja mas.”
“Mahal banget bang, 10 ribu aja.”
“Wah gak bisa segitu mas, 20 deh.”
Akhirnya Aku dapat menaiki ojek tersebut dengan harga 15 ribu, walaupun agak bohong dikit kalo Aku bilang kepada Pak Ojek itu Aku Cuma punya 15 ribu doank. Hehe. Maklum biar irit.
Sampai di PT. KOTAMA, Aku langsung menuju ke sebuah pos Satpam yang letaknya wajar seperti pos-pos yang lain, di samping gerbang utama. Aku bertanya kepada salah seorang satpam, tentang benar atau tidaknya tes tertulis dilaksanakan di perusahaan tersebut.
“Ya mas, besok memang ada kegiatan tes disini. Mas besok ikut tes?” Seorang satpam bertubuh agak kurus itu mencoba menjelaskan dengan ramah.
“Iya Pak, saya besok akan mengikuti tes disini.” Aku bertanya dengan nada bingung. Bingung mengapa tempat tesnya jauh dari rumahku, bingung karena hari itu sudah masuk waktu malam. Aku tak mungkin pulang lagi ke rumahku yang berada di sebelah utara Jakarta. Aku takut terlambat mengikuti tes esok hari yang rencananya akan diadakan di hari Senin pukul 8 pagi. Ku beranikan diri untuk meminta tolong kepada seorang satpam yang aku rasa dia adalah seorang Kepala Satpam disini.
“Pak, saya tinggalnya di Jakarta Utara, Pak.” Aku mulai memohon belas kasih dari sang Kepala Satpam.
“Ya, terus? Ada yang bisa kami bantu?” Ramah sekali Bapak Kepala Satpam ini mencoba menjadi pendengar yang baik untukku.
“Gini Pak, saya bingung kalau harus kembali lagi ke rumah, saya takut terlambat besok pagi Pak, kan mulai tesnya jam 8 pagi Pak, untuk itu saya meminta pertolongan Bapak. Bolehkah saya menumpang tidur malam ini disini Pak. Dimana aja boleh Pak, dikursi belakang kantor bapak pun gak masalah Pak. Gak masalah banyak nyamuknya juga Pak.”
“Tidak bisa mas. Perusahaan kami tidak mengijinkan ada orang asing menginap disini.”
Sontak Aku terdiam, harapanku sia-sia, Aku melihat di sekitar, tiadakah tempat untukku menumpang istirahat walau semalam? Tiba-tiba lamunanku terhentak mendengar sayup-sayup seorang satpam yang merupakan anak buah dari Bapak Kepala Satpam itu.
“Sudah Ndan, kasihan dia. Hanya menginap semalam saja. Biar saya jagain dia Ndan, kalau ada masalah saya akan bertanggung jawab Ndan!”
Hati kini tak lesu lagi. Terima kasih Allah yang meluluhkan hati seorang Satpam ini. Akhirnya, Aku bisa beristirahat malam itu. Ditemani nyamuk, gak masalah, sudah saya siapkan obat jitu pengusir nyamuk, sebuah lotion anti nyamuk yang ku beli setelah Aku telah diberikan ijin menginap di perusahaan tersebut.
Keesokkan harinya, Hari Senin, tepat jam setengah lima pagi, Aku sudah bangun, agar Aku bisa mempersiapkan diri untuk mengikuti tes. Selesai mandi, Aku melaksanakan Solat. Berdo’a, agar usahaku hari ini tidak sia-sia.
Buru-buru Aku menuju seorang satpam yang kemarin membantuku meluluhkan hati Bapak Kepala Satpam untuk mengucapkan terima kasih.
Jam 7 Pagi, telah banyak para peserta tes yang sudah berkumpul di depan gerbang. Aku pun dengan riang menuju kerumunan tersebut. Tak ku sia-siakan waktu itu untuk berkenalan dengan seorang yang peserta yang sedang asyik menyendiri sambil memainkan handphonenya.
“Mas, Ikut tes juga?” Aku memulai berkenalan dengan seorang yang mempunyai postur tubuh gemuk tinggi.
“Iya nih mas. Mas juga ya? Nama saya Dony mas, saya tinggal tidak jauh dari sini mas. Boleh tau namanya mas?”
“Saya Haris mas, saya tinggal di Jakarta Utara mas. Mas ngambil jurusan apa nanti di perusahaan ini. Kalau saya sih ngambil jurusan listrik mas.”
“Wah, saya juga ngambil jurusan itu. Ntar duduknya deket-deketan ya! Biar bisa saling membantu. Hehe...”
Tahukah kawan, Aku berteman dengan orang yang tepat. Nanti Aku jelaskan mengapa Aku bisa beranggapan seperti itu.
Ujian masuk pun dilakukan. Aku sudah menyiapkan segala alat tulis diatas meja. Dua pensil kuserut dengan agak tajam pada matanya. Dony pun juga bersiap-siap. Dan yang ditunggu pun akhirnya dilaksanakan. Dengan sigap Aku mengerjakan semua tes tulis yang diberikan. Mulai dari baris deret, tes gambar, tes keahlian sampai masuk tes pengetahuan umum, Aku babat habis semua. Ya kawan, walaupun banyak pertanyaan yang Aku gak tahu jawabannya tetap Aku tebak-tebak jawabannya. Hehe. Hitung kancing.
Menunggu pengumuman yang akan dilaksanakan pada jam4 sore, Dony mengajakku untuk berkeliling Cilegon. Masuk Mall, keluar Mall. Main PS. Hingga Akhirnya Azan Ashar menghentikan langkah, Kami melaksanakan Solat terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali ke PT. KOTAMA.
Entah yang ku rasakan sepertinya Aku lulus. Namun, entahlah. Aku belum tahu hasil tesnya.
Dari 100 orang pertama yang mengikuti tes, maka hasil tesnya pun keluar duluan. Aku dan Dony melihat dan mencari dengan seksama nama kami. Ku urut mulai dari angka 1, 2, 3 terus menuju angka 9, heh, Aku menghela nafas, mana namaku? Aku lanjutkan ke angka berikutnya, 10. HARIS NURDIANTO, lulus. Hah? Hanya 10, dari seratus orang hanya diambil sepuluh? Mana nama Dony? Aku memang gembira melihat kelulusanku pada tes tulis. Namun, Aku bersedih melihat temanku tak masuk kedalam sepuluh nama tersebut.
“Ris, selamat ya! Mungkin gua memang belum begitu bisa ngikutin tes kayak gituan. Susah banget. Saya pulang duluan ya!” Dony, temanku yang malang berkata dengan penuh kehampaan.
“Don, mungkin bukan disini lo sukses Don. Mungkin ditempat lain. Hati-hati ya Don.” Aku berat ditinggal dirinya.
Ku teruskan membaca informasi dibawah pengumuman peserta yang lulus.
“Bagi peserta yang lulus tes tertulis berhak mengikuti tes wawancara hari Selasa, tanggalnya (Aku lupa kawan tapi pokoknya tes wawancara ini dilaksanakan besok harinya) jam 8.00 wib.”
“Wah langsung besok ya tesnya. Harus nginep lagi nih di perusahaan ini.” Batinku mulai berharap kembali Bapak Satpam mengijinkan Aku untuk menginap lagi di perusahaan.
“Untuk malam ini tidak boleh mas.” Bapak Kepala Satpam ini orangnya berbeda dengan yang kemarin malam, agak kaku untuk mengijinkan orang asing menginap di perusahaan itu. Aku kembali bingung. Kemana lagi Aku akan menginap. Seketika Aku langsung teringat Dony yang mengatakan bahwa rumahnya tidak jauh dari perusahaan ini.
Ku gendong tas ku erat-erat, berlari mengejar Dony yang masih berjalan menuju ke tempat pemberhentian mobil angkot. Penuh harap kawan, penuh harapan terakhir untuk bisa menginap semalam di rumahnya.
“Don, tunggu!” secepat kilat Aku berlari menuju Dony. Dony pun berhenti terheran melihat wajahku yang tiba-tiba memelas.

“Don, saya bingung. Kemarin saya masih diperbolehkan menginap di perusahaan itu, tapi hari ini, Satpamnya bener-bener tidak memperbolehkan. Kalau boleh saya menumpang istirahat ya semalam di rumahmu.”
“Hmm, tunggu bentar ya! Saya mau telpon Ibu di rumah dulu.”
Kami pun menuju ke sebuah wartel. Dony pun segera mengetikkan sebuah nomor telepon rumah kemudian berbicara kepada seorang wanita diujung kabel yang kurasa itu adalah Ibunya.
“Mah, ada temen Dony yang mau nginep di rumah. Boleh gak Mah?”
Aku tak tahu yang dikatakan Ibu Dony diseberang telepon sana.
“Yaudah Mah, Dony sama temen Dony bentar lagi sampai di rumah.”
Senyum Dony membuatnya tampak lebih cerah dari sebelumnya. Aku berpikir Ibu Dony mengijinkan Aku untuk menginap di Rumahnya.
“Ayo Ris, kita ke rumah. Ibu mengjinkan kamu nginep di rumah.”
“Terima kasih ya Don sebelumnya.”
“Iya Don, tenang aja.”


Dengan sebuah mobil angkot Kami menuju ke sebuah rumah yang selama ini dihuni oleh Dony dan keluarganya.
Esoknya, Aku pun melaksanakan tes wawancara. Banyak pertanyaan yang tak bisa ku jawab, karena semuanya dari menggunakan Bahasa Inggris. Hmmph, Aku menghela nafas. Aku yakin tidak lulus kali ini. Apalagi pas yang mewawancaraiku bilang “Mas, ikut pendaftaran satpam aja mas, saya jamin orang seperti mas lulus.”
Kawan, satu hal yang harus kita ingat, setiap yang terjadi pada saat ini adalah akibat dari proses yang yang telah kita lalui di hari kemarin. Mungkin Allah gak menginginkan saya untuk menjadi seorang yang hebat di bidang listrik, karena sejujurnya saya memang saya tak punya kemampuan di bidang itu. Dan Akhirnya kawan, dengan senyum semangat, Aku kembali ke Jakarta. Kembali mengadu nasib lagi di tempat lain.
Yang ku yakinkan adalah mungkin kesuksesan saya bukan di tempat ini tapi di tempat lain. Aku akan kejar kesuksesan itu walau keujung dunia sekali pun.

Selasa, 28 Agustus 2012

Pemberian terbaik yang Allah berikan kepada manusia adalah Hidayah

http://www.google.co.id/imgres?um=1&hl=id&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&biw=1366&bih=644&tbm=isch&tbnid=QeFmIRwmfD9G2M:&imgrefurl=http://baltyra.com/2011/08/29/fajar-hidayah-di-gunung-kelud/&imgurl=http://baltyra.com/wp-content/uploads/2011/08/hidayah1.jpg&w=320&h=400&ei=5XE9UInsEYrOrQev-YAY&zoom=1&iact=hc&vpx=169&vpy=151&dur=1527&hovh=251&hovw=201&tx=114&ty=92&sig=104961461498063946032&page=1&tbnh=123&tbnw=98&start=0&ndsp=22&ved=1t:429,r:0,s:0,i:72
Sahabatku, tahukah engkau? Bahwa setiap manusia telah Allah berikan kekuatan untuk menggapai setiap yang diimpikannya. Tidak seorang pun luput akan kekuatan unik yang Allah berikan. Seperti permasalahan rizki pun, tak ada makhluk di dunia ini yang tidak mendapatkan rizki dari-Nya.
Allah pun telah menunjuk seorang Rasul untuk menyampaikan Risalah-Nya. Seorang Rasul yang merasa berat hatinya melihat kesusahan yang dirasakan umatnya.
Segala hal-hal yang mendekatkan kita kepada surga telah dijelaskan dengan sangat nyata, bahkan sebelum Rasul SAW meninggalkan dunia ini, agama Islam sudah di jelaskan dengan sangat baik. Malamnya secerah siangnya. Itulah ungkapan yang tepat akan Risalah yang sempurna dan paripurna.
Begitu pula hal-hal yang menyebabkan kita kepada kekotoran hati sehingga mengapa kita sulit sekali mendapatkan hidayah Allah pun telah beliau SAW jelaskan, agar kita senantiasa berhati-hati dalam menapaki perjalanan dunia.
Sedangkan hawa nafsu kita serta saitan yang sering menjurumuskan kita kelembah kenistaan itu justru berbuat sangat berbanding terbalik di bandingkan yang datang dari fitrah manusia.
Para penduduk surga sering berucap "Sesungguhnya apa yang kami dapatkan di Surga ini tidak lain karena Allah memberikan kepada kita kenikmatan yang besar kepada kita berupa hidayah".
Ya hidayah. dan itu adalah nikmat terbesar yang di hadiahkan kepada manusia yang senantiasa meliputi dirinya dari mengingat Allah dan kebesaran-kebesaran-Nya.
Tidak mungkin seseorang bisa masuk surga hanya karena amal perbuatan mereka sehingga mereka beranggapan, "Saya pasti masuk surga karena saya sudah bersedekah dengan banyak, saya sering memberi makan anak yatim, dst", namun dia lupa, sebenarnya siapa yang membuat dia mampu bersedekah, siapa zat yang Maha Kaya yang memberikan dia kemampuan untuk memberikan makanan kepada anak yatim, dia lupa sebenarnya apa yang terdapat padanya itu adalah nikmat dari Allah.
" ...dia lupa, sebenarnya siapa yang membuat dia mampu bersedekah, siapa zat yang Maha Kaya yang memberikan dia kemampuan untuk memberikan makanan kepada anak yatim, dia lupa sebenarnya apa yang terdapat padanya itu adalah nikmat dari Allah."
 Dan yang membuat seseorang bisa masuk Surga hanyalah Allah, dan surga adalah sebaik-baik pemberian kepada orang-orang yang tulus melakukan segala sesuatu kepada Allah. Dan seseorang bisa ikhlas melakukan sesuatu karena Allah karena Allah telah memberikan kepadanya nikmat yang begitu besar di dunia ini berupa hidayah.

Ada Hukum Atau Tidak Sama Saja

Aneh benar Indonesia ini. Negara yang mempunyai status penjunjung Undang-undang, sepertinya malah jauh dari segi teratur. Mudah sekali mempermainkan Pasal-pasal seperti bermain monopoli, yang punya uang dia yang kebal hukum.
Hmmm, kalau yang ditangkap rakyat tak beruang seperti saya, apalah jadinya.
Undang-undang sudah tidak punya jati diri, tidak membuat jera. Faktanya seperti itu.

Senin, 27 Agustus 2012

Hancur Sepi

Ketika Hati tak ingin terpaut
Gelisah resah mendera
Riak air yang semakin mendalam
Menyatakan yang tak terasa

Ketika langit berwarna merah saga
Bulan siap menyambut dengan senyuman terbaiknya
Namun hati tetap tak tahu
Siapa gerangan yang dirindukannya

Sepi katanya
Coba keluar dari keheningan
Menyambut kedatangan yang tak ditunggu
Tak hancur sesuatu yang dirusak